Ketua Umum KGS Aliansi Indonesia: Pemuda Harus Menjadi Arsitek Peradaban, Bukan Sekadar Subjek Pembangunan
Ketua Umum KGS Aliansi Indonesia: Pemuda Harus Menjadi Arsitek Peradaban, Bukan Sekadar Subjek Pembangunan
Yogyakarta, 27 Oktober 2025 — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini menjadi penanda penting dalam narasi kebangsaan Indonesia. Momentum reflektif tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ritual mengenang janji historis tahun 1928, tetapi juga sebagai katalisator untuk mereorientasi peran pemuda di tengah disrupsi global dan akselerasi teknologi.
Ketua Umum Komando Garuda Sakti (KGS) Aliansi Indonesia, Edi Munadi, S.A.G., dalam pidato virtualnya yang sarat makna filosofis, menegaskan bahwa pemuda Indonesia harus bertransformasi dari sekadar subjek pembangunan menjadi arsitek peradaban yang inklusif dan progresif.
Ia menyoroti pentingnya generasi muda untuk tidak terjebak dalam paradigma homo economicus semata, melainkan juga menjadi homo sociologicus dan homo politicus—manusia yang memiliki kesadaran sosial dan politik yang utuh demi kemaslahatan kolektif.
“Sumpah Pemuda sejatinya adalah deklarasi kesadaran ontologis kolektif. Kita mengakui keberagaman etnis dan linguistik, namun kita memilih untuk bersemi di bawah payung e pluribus unum—dari banyak menjadi satu,” ujar Edi Munadi dengan intonasi tegas namun reflektif.
“Kesatuan itu bukanlah uniformitas yang mematikan keragaman, melainkan persatuan simbiotik yang justru menguatkan esensi keindonesiaan kita,” lanjutnya.
Menurut Edi, trilogi janji Sumpah Pemuda — Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa — bukanlah dogma mati, melainkan formula dinamis yang tetap relevan di era abad ke-21. Ia menegaskan bahwa semangat ini harus diterjemahkan dalam aksi nyata: memperkuat solidaritas sosial, literasi digital, dan partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa.
“Pemuda hari ini tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan global. Mereka harus menjadi penggerak, pencipta solusi, dan penjaga nilai-nilai luhur kebangsaan,” tutupnya
