Jalan Lintas Tengah Mirip Kubangan Kerbau, Aktivis Peduli Lingkungan Angkat Bicara
Kelayang, Inhu – Jalan lintas tengah yang menghubungkan Air Molek dan Peranap di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, kini mengalami kerusakan parah. Kondisinya yang berlubang dan berlumpur di berbagai titik membuat masyarakat kesulitan beraktivitas. Kerusakan jalan ini diduga kuat akibat aktivitas truk Over Dimension Over Loading (ODOL) yang mengangkut batu bara secara berlebihan.
Rudi Walker Purba, seorang aktivis peduli lingkungan dari Komando Garuda Sakti Aliansi Indonesia Provinsi Riau, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi jalan yang semakin buruk. Dalam wawancaranya dengan awak media pada Senin (24 Maret 2024) sore di Air Molek, ia menjelaskan bahwa ruas jalan di beberapa titik sudah tidak layak dilalui, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jalan Berubah Menjadi Lumpur dan Debu
Menurut Rudi Walker, saat musim hujan, jalan yang seharusnya beraspal berubah menjadi kubangan lumpur, sedangkan saat musim panas, debu yang beterbangan sangat mengganggu pengguna jalan. Beberapa titik yang mengalami kerusakan parah di antaranya Desa Bongkal Malang, Kecamatan Kelayang; Desa Perkebunan Sungai Lala, Kecamatan Sei Lala; Desa Jati Rejo, Kecamatan Pasir Penyu; serta Jalan Elak di Kecamatan Pasir Penyu. Selain itu, jalur menuju Peranap melalui Desa Simalinang Darat juga mengalami kerusakan yang sama.
“Kondisi jalan saat ini sangat memprihatinkan. Banyak titik yang berlubang, dan ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan berbahaya. Sebaliknya, jika cuaca panas, debu jalanan menutupi pandangan pengendara. Hal ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” ungkap Rudi Walker.
Merugikan Masyarakat dan Membahayakan Nyawa
Selain berdampak pada kenyamanan berkendara, kondisi jalan yang buruk juga merugikan masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada jalan ini untuk aktivitas pertanian, perdagangan, dan jasa. Bahkan, dalam kondisi darurat, jalan rusak ini bisa menjadi faktor penyebab keterlambatan penanganan medis bagi pasien yang harus segera dibawa ke rumah sakit.

“Sudah banyak kejadian di mana masyarakat yang sakit atau dalam keadaan darurat tidak bisa segera mendapatkan pertolongan medis akibat kondisi jalan yang buruk. Bahkan, tak jarang ada yang meninggal dalam perjalanan karena keterlambatan akibat kerusakan jalan ini,” keluh salah seorang warga.
Truk ODOL Batu Bara Diduga Penyebab Utama
Rudi Walker menyoroti peran truk batu bara yang melintas di jalan provinsi ini sebagai salah satu penyebab utama kerusakan. Truk-truk tersebut diduga membawa muatan melebihi kapasitas, sehingga merusak struktur jalan lebih cepat dari yang seharusnya. Aktivitas ini bertentangan dengan regulasi yang ada, yaitu UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta UU No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan UU No. 4 Tahun 2009 mengenai Pertambangan Mineral dan Batu Bara.
Dengan adanya aktivitas truk batu bara yang melintas tanpa ada jalan khusus, masyarakat mempertanyakan apakah perusahaan tambang dan angkutan batu bara tersebut sudah mengantongi izin resmi. Jika memang mereka memiliki izin, masyarakat tetap mendesak agar perusahaan tersebut bertanggung jawab dalam menjaga infrastruktur jalan yang mereka gunakan.

Pemerintah dan APH Harus Bertindak Tegas
Menyikapi kondisi ini, Rudi Walker dan masyarakat mendesak Pemerintah Provinsi Riau serta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bertindak tegas terhadap truk ODOL. Mereka meminta agar angkutan batu bara dialihkan ke jalan khusus yang seharusnya dibuat oleh perusahaan tambang sebelum mereka beroperasi di wilayah tersebut.
“Pemprov Riau harus menggunakan kebijakannya dengan bijak, sementara APH harus menegakkan hukum secara tegas. Jangan sampai lemahnya tindakan dari pihak berwenang justru menimbulkan stigma negatif di masyarakat,” tegas Rudi Walker.
Menurutnya, masyarakat yang menggunakan jalan ini juga merupakan pembayar pajak kendaraan, sehingga sudah seharusnya mereka mendapatkan infrastruktur jalan yang layak. Kerusakan jalan yang diakibatkan oleh truk bermuatan berlebih sangat merugikan masyarakat luas, terutama karena memperpendek usia jalan yang seharusnya bisa bertahan lebih lama.
“Pemerintah jangan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat. Kami mendesak agar ada tindakan konkret untuk menertibkan truk ODOL dan mencegah kerusakan jalan yang semakin parah. Jangan biarkan masyarakat terus menjadi korban akibat kelalaian pemerintah dalam menegakkan aturan,” tambah seorang tokoh masyarakat setempat.
Harapan Masyarakat untuk Perbaikan Jalan
Masyarakat berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret dalam menangani permasalahan ini. Selain menertibkan truk ODOL, mereka juga meminta agar perbaikan jalan segera dilakukan untuk memastikan keamanan dan kelancaran aktivitas sehari-hari.
“Kami butuh solusi, bukan hanya wacana. Jika pemerintah serius ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka infrastruktur jalan harus menjadi prioritas utama,” ujar seorang pemuda setempat yang turut merasakan dampak buruk dari kondisi jalan yang rusak.

Dengan semakin banyaknya desakan dari masyarakat, diharapkan pemerintah segera merespons dan mengambil tindakan tegas demi kepentingan bersama. Jika tidak, bukan tidak mungkin aksi protes lebih besar akan muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap ketidakpedulian pihak berwenang dalam menangani permasalahan ini.
