Petani Desa Rantau Tampang Keluhkan Tekanan dari Pihak PT KMB (GMKM): “Kami Ditekan, Buah Kami Ditolak Tanpa Alasan Jelas”
Rantau Tampang — Gelombang keluhan datang dari para petani di Desa Rantau Tampang, yang merasa dirugikan oleh kebijakan dan perlakuan yang dilakukan oleh pihak PT KMB (GMKM), perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan hasil perkebunan sawit di wilayah tersebut. Para petani menilai sistem grading atau sortasi buah yang diterapkan perusahaan tidak adil, bahkan cenderung menekan hasil panen petani lokal.
Sejak awal berdirinya pabrik PT KMB (GMKM) di Desa Rantau Tampang, pihak perusahaan sempat memberikan komitmen kepada masyarakat untuk bekerja sama dengan sistem yang saling menguntungkan. Kesepakatan awal menyebutkan bahwa hasil kebun petani akan diterima sesuai standar mutu yang wajar dan transparan.
Namun, kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Sejumlah petani menuturkan bahwa setiap kali mereka mengirim buah hasil panen ke pabrik, mereka justru menghadapi proses grading yang dinilai sepihak dan tidak konsisten. Buah-buah petani sering kali dikategorikan ke dalam kualitas rendah, sehingga harga jual menjadi turun drastis — sementara buah kebun milik perusahaan sendiri, yang menurut warga juga memiliki kualitas beragam, tidak pernah dipermasalahkan atau ditertibkan.
“Kami ini petani kecil. Dulu waktu pabrik belum berdiri, perusahaan datang menjanjikan kerja sama baik. Tapi sekarang setelah berdiri, malah kami ditekan. Buah kami dibilang jelek terus, harganya dipotong, sementara buah kebun mereka sendiri dibiarkan saja,” ungkap salah satu petani yang meminta namanya dirahasiakan demi keamanan.
Warga menduga, praktik ini sudah berlangsung cukup lama dan seolah-olah dibiarkan oleh pihak manajemen di tingkat lokal. Tidak ada penertiban maupun pemeriksaan internal terhadap sistem penilaian mutu buah yang dilakukan oleh petugas lapangan.
Bahkan lebih jauh, para petani juga mengaku adanya tekanan fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh oknum tertentu yang disebut-sebut sebagai “tameng” perusahaan. Oknum tersebut kerap berperilaku layaknya preman, membentak sopir pengangkut buah, dan menakut-nakuti petani yang mencoba memprotes hasil grading mereka.
“Yang antar buah aja banyak yang nggak berani ngomong. Takut dibentak. Takut nanti malah nggak diterima buahnya. Ada semacam orang-orang suruhan yang jaga dan ikut mengatur di lapangan,” lanjut sumber tersebut.
Situasi ini menyebabkan banyak petani merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya terhadap sistem kemitraan yang selama ini diharapkan bisa membantu perekonomian mereka. Apalagi, tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya menjual buah ke pengepul swasta, namun kemudian diminta untuk menjual langsung ke pabrik dengan janji harga stabil — janji yang kini justru menjadi beban.
Sejumlah tokoh masyarakat di Desa Rantau Tampang pun mulai menyuarakan keprihatinan atas kondisi ini. Mereka berharap pemerintah daerah, khususnya dinas perkebunan dan aparat penegak hukum, turun langsung ke lapangan untuk memeriksa sistem pembelian dan penilaian mutu buah di pabrik PT KMB (GMKM).
“Kalau memang mau membantu petani, tolong diawasi. Jangan sampai perusahaan besar seenaknya menekan rakyat kecil. Kami tidak menolak kerja sama, tapi harus ada keadilan,” ujar salah satu tokoh desa.
Masyarakat juga menilai, praktik pembiaran terhadap pelanggaran dan tindakan intimidasi di lapangan bisa memperburuk hubungan antara perusahaan dan warga sekitar. Bila tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menimbulkan konflik terbuka di kemudian hari.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT KMB (GMKM) di tingkat lokal belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan tersebut. Awak media masih berupaya menghubungi pimpinan operasional perusahaan untuk memperoleh klarifikasi.
supriyadi kalteng +62 821-5257-2390


