LKGSAI Nunukan Monitoring Embung Bolong, Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Panjang
LKGSAI Nunukan Monitoring Embung Bolong, Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Panjang
Nunukan, 26 April 2026 –
Lembaga Kontrol Gerakan Sosial Aliansi Indonesia (LKGSAI) Kabupaten Nunukan melakukan monitoring langsung di lokasi Embung Bolong, Kampung Tator, terkait kondisi terkini sumber air baku yang mengalami penyusutan signifikan.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, kondisi embung saat ini mengalami penurunan debit air akibat musim kemarau yang cukup panjang. Embung Bolong yang selama ini menjadi salah satu sumber utama kebutuhan air bersih masyarakat kini mulai menunjukkan penurunan kapasitas yang cukup mengkhawatirkan.
Kepala Direktur PDAM Nunukan menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, embung ini mampu menampung hingga sekitar 150.000 meter kubik air, namun saat ini volume air jauh di bawah kapasitas tersebut. Bahkan, debit air yang masuk dari hulu hanya berkisar 25 hingga 30 liter per detik, jauh dari kondisi ideal.
“Embung ini sangat bergantung pada curah hujan. Saat musim kemarau seperti sekarang, debit air menurun drastis sehingga daya tampung tidak maksimal. Kami sangat mengharapkan adanya curah hujan untuk menambah volume air di embung,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, masyarakat mulai bergantung pada distribusi air dari PDAM Nunukan untuk memenuhi kebutuhan harian. Namun, dengan menurunnya debit air baku, hal ini juga berpotensi mempengaruhi kelancaran distribusi air kepada pelanggan.
PDAM Nunukan pun menghimbau kepada seluruh pelanggan agar menggunakan air secara bijak dan mengutamakan kebutuhan prioritas selama musim kemarau berlangsung.
Lebih lanjut, pihak PDAM juga mengungkapkan bahwa permasalahan ini bukan hanya terjadi tahun ini, melainkan hampir setiap musim kemarau. Hasil survei di wilayah hulu menunjukkan bahwa kapasitas debit air memang terbatas dan menjadi kendala utama dalam menjaga kestabilan volume embung.
Selain faktor alam, terdapat pula kendala administratif, khususnya dalam proses perizinan pengurukan embung yang hingga saat ini masih berjalan. Padahal, langkah pengurukan tersebut dinilai penting sebagai solusi jangka pendek untuk meningkatkan daya tampung air.
“Embung Bolong ini merupakan salah satu embung terbesar di Nunukan. Untuk jangka pendek, pengurukan menjadi solusi agar volume tampungan bisa bertambah dan membantu mengatasi dampak kemarau yang terus terjadi setiap tahun,” tambahnya.
Dengan kondisi saat ini, semua pihak diharapkan dapat bersama-sama memikirkan solusi terbaik, baik dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, guna menjaga keberlangsungan sumber air bersih bagi masyarakat.
Penulis: Sitti Samriyani
LKGSAI Nunukan


